Musuh Terbesar Dompetmu Bukan Harga Barang Naik, Tapi Gengsi

Seseorang yang sedang memgang dompet kosong (Sumber: unsplash.com/@emkal)

Pernahkah kamu melihat kejadian seperti ini? Seorang teman yang gajinya sebenarnya pas-pasan (setara UMR), tapi ponsel yang dipegangnya adalah model terbaru seharga tiga kali lipat gajinya. Atau tetangga yang memaksakan pesta resepsi pernikahan super mewah sampai menutup jalan dan menyewa gedung mahal, padahal setelah pesta usai, pengantin baru itu bingung mau tinggal di mana dan makan apa karena terlanjur berutang banyak.

Kenapa fenomena ini begitu menjamur di sekitar kita?

Jawabannya satu kata: Gengsi.

Selamat datang di Langkah 1 dari perjalanan kita menuju kemapanan. Setelah kemarin kita membenahi pondasi pikiran di Langkah 0, hari ini kita akan menghadapi musuh terbesar yang sering menghalangi kita untuk maju. Musuh itu tidak datang dari pemerintah, tidak datang dari bos yang pelit, tapi datang dari cermin: Diri kita sendiri.

Penyakit "Ingin Terlihat Mampu"

Ada sebuah kutipan terkenal yang sangat menohok: "Kita membeli barang yang tidak kita butuhkan, dengan uang yang tidak kita miliki, untuk membuat kagum orang-orang yang sebenarnya tidak peduli pada kita."

Coba renungkan kalimat itu. Berapa kali kita membeli sepatu mahal bukan karena sepatu lama rusak, tapi supaya dipuji teman kantor? Berapa kali kita nongkrong di kafe mahal bukan karena kopinya enak, tapi demi update status di media sosial?

Masyarakat kita sering salah kaprah. Kita diajarkan bahwa tanda kesuksesan adalah apa yang bisa dilihat. Mobil baru, baju bermerek, tas branded.

Padahal, membeli barang-barang itu tidak membuatmu kaya. Membeli barang-barang itu justru mengurangi kekayaanmu. Uangmu pindah ke dompet penjual mobil dan penjual tas. Kamu hanya dapat barangnya, tapi uangmu hilang.

Bedanya "Kaya" dan "Pura-pura Kaya"

Di blog Langkah Mapan ini, kita harus sepakat membedakan dua istilah ini:

1. Orang yang Terlihat Kaya (Rich) Orang ini fokus pada pengeluaran. Pendapatannya mungkin besar, tapi pengeluarannya juga besar demi gaya hidup.

  • Ciri-cirinya: Barangnya selalu baru, penampilannya necis, sering pamer kemewahan.

  • Risikonya: Jika besok dia di-PHK atau sakit, dia akan langsung bangkrut karena tidak punya tabungan. Semua uangnya sudah jadi barang yang nilainya turun terus.

2. Orang yang Mapan/Sejahtera (Wealthy) Orang ini fokus pada aset. Dia mungkin gajinya biasa saja atau besar, tapi dia memilih hidup sederhana.

  • Ciri-cirinya: Penampilan biasa saja, jarang pamer, naik kendaraan yang fungsinya masih bagus walau bukan model terbaru.

  • Kelebihannya: Di rekeningnya ada tabungan, dia punya investasi, atau punya kos-kosan. Jika dia berhenti kerja, dia masih bisa hidup tenang bertahun-tahun.

Mana yang kamu pilih? Terlihat kaya tapi hati was-was dikejar cicilan, atau terlihat sederhana tapi hati tenang dan rekening gendut?

Biaya Gengsi itu Mahal

Coba hitung. Selisih harga antara "kebutuhan" dan "gengsi" itu bisa dipakai untuk mengubah nasibmu.

  • Kopi sachet di kantor: Rp 2.000. Kopi di kafe mahal: Rp 40.000.

  • HP Android spesifikasi bagus: Rp 2 Juta. HP Gengsi buah-buahan: Rp 15 Juta.

  • Motor matic standar: Rp 18 Juta. Motor sport biar keren: Rp 35 Juta.

Uang selisih jutaan rupiah itu, jika ditabung dan diinvestasikan selama bertahun-tahun, bisa jadi modal usaha atau dana pensiun. Tapi seringkali, uang itu hangus terbakar hanya demi pujian sesaat.

Puasa Validasi

Langkah praktis pertama untuk menjadi mapan bukanlah "cara cepat dapat uang", melainkan belajar masa bodoh.

Berhentilah mencari validasi atau pengakuan dari orang lain. Tetanggamu tidak akan membayarkan cicilanmu saat kamu nunggak. Teman medsosmu tidak akan membelikan susu anakmu saat kamu kehabisan uang.

Jadi, untuk apa memusingkan pendapat mereka?

Hiduplah sesuai kemampuanmu, bukan sesuai keinginanmu. Jika gajimu UMR, hiduplah dengan gaya UMR. Jangan paksa hidup gaya manajer dengan gaji staf. Itu namanya bunuh diri finansial.

Mulai Fokus ke Diri Sendiri

Mulai hari ini, mari kita lakukan "Puasa Gengsi". Tiap kali mau beli sesuatu, tanya ke diri sendiri: "Aku beli ini karena aku butuh fungsinya, atau karena aku ingin orang lain melihatku memilikinya?"

Jika jawabannya yang kedua, batalkan. Simpan uangnya.

Setelah kita berhasil menekan ego dan gengsi, biasanya akan muncul pertanyaan baru: "Lalu uang yang berhasil diselamatkan ini harus diapakan? Disimpan di bawah bantal atau bagaimana?"

Nah, di artikel selanjutnya, kita akan belajar membedakan ke mana uang harus mengalir. Kita akan berkenalan dengan dua istilah penting: Aset dan Liabilitas.

Sampai jumpa di Langkah 2.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahap Awal Mempelajari Filsafat: Panduan Sistematis untuk Pemula

Mengenal "Mesin Pencetak Uang" dan "Mesin Penyedot Uang" (Aset vs Liabilitas)

Cara Investasi Paling Cocok untuk Kaum Sibuk (Kenalan sama Reksadana)