Mental Tauge vs Mental Jati (Mengapa Kamu Harus Tega Menunda Kesenangan)

Pria berjas mengangkat piala dengan tangan terangkat (Sumber: unsplash.com/@sasun1990)

Di dunia ini, ada dua jenis tanaman yang cara tumbuhnya sangat berbeda. Pertama adalah Tauge (Kecambah). Kamu tanam hari ini, besok sudah tumbuh, lusa sudah bisa dipanen dan dimakan. Cepat sekali. Tapi harganya murah, dan cepat busuk.

Kedua adalah Pohon Jati. Kamu tanam hari ini, besok belum ada apa-apa. Bulan depan masih bibit kecil. Lima tahun lagi baru mulai kelihatan gagah. Butuh puluhan tahun untuk bisa dipanen. TAPI, sekalinya panen, harganya ratusan juta dan kayunya kuat bertahan ratusan tahun.

Pertanyaannya: Mental keuanganmu saat ini, mental Tauge atau mental Jati?

Selamat datang di Langkah 9. Hari ini kita akan belajar satu skill psikologi terberat dalam sejarah manusia: Sabar.

Penyakit Zaman Now: "Saya Mau Sekarang!"

Kita hidup di zaman serba instan.

  • Lapar? Pesan ojol, 20 menit makanan datang.

  • Mau nonton film? Buka aplikasi, langsung tonton.

  • Kirim pesan? Detik ini kirim, detik ini sampai.

Otak kita jadi terbiasa dengan "Hadiah Langsung" (Instant Gratification). Akibatnya, saat kita masuk ke dunia investasi atau membangun bisnis (Passive Income), kita kaget. "Lho, kok saya sudah nabung sebulan tapi belum kaya?" "Kok saya sudah nge-blog 3 bulan tapi pengunjung masih sepi?"

Karena tidak sabar menunggu, akhirnya banyak orang berhenti. Mereka kembali mencari cara cepat (judi, pinjol, atau investasi bodong) yang akhirnya malah bikin bangkrut.

Ujian Marshmallow

Ada penelitian terkenal tentang anak kecil yang dikasih satu permen marshmallow. Penelitinya bilang: "Kalau kamu tahan tidak makan permen ini selama 15 menit, nanti om kasih satu lagi (jadi dapat dua). Tapi kalau dimakan sekarang, cuma dapat satu."

Hasilnya? Sebagian besar anak langsung memakannya (Mental Instan). Hanya sedikit yang sabar menunggu (Mental Menunda Kesenangan). Setelah dilacak puluhan tahun kemudian, anak-anak yang sabar tadi terbukti hidupnya lebih sukses, lebih kaya, dan lebih bahagia.

Pelajaran moralnya: Kemampuan menunda kesenangan kecil hari ini, adalah kunci mendapatkan kesenangan besar di masa depan.

Cara Melatih Otot Kesabaran

Bagaimana cara mengubah mental kita dari Tauge ke Jati?

1. Aturan 72 Jam Saat kamu melihat sepatu bagus di mall atau diskon gila-gilaan di marketplace, jangan langsung beli. Tahan. Masukkan keranjang saja, tapi jangan bayar. Tunggu 72 jam (3 hari). Biasanya, setelah 3 hari, "nafsu" belanja itu hilang dan kamu sadar: "Ah, ternyata aku gak butuh-butuh amat." Uangnya selamat!

2. Fokus pada Proses, Bukan Hasil Jangan tiap hari ngecek saldo investasi. Itu bikin stres. Fokuslah pada tindakannya: "Yang penting bulan ini saya sudah berhasil menyisihkan Rp 500 ribu. Titik." Jadikan "menyisihkan uang" itu sebagai prestasi, bukan "jumlah saldonya".

3. Visualisasi Jangka Panjang Saat kamu merasa berat menyisihkan uang (rasanya ingin dipakai jajan saja), bayangkan dirimu 10 tahun lagi. Bayangkan kamu di masa depan sedang berterima kasih pada dirimu hari ini: "Makasih ya, karena kamu dulu sabar menabung, sekarang aku bisa beli rumah tanpa pusing KPR."

Jebakan "Cepat Kaya"

Orang yang tidak sabar adalah mangsa empuk bagi penipu. Ingatlah hukum alam ini: High Return, High Risk. (Untung Besar, Risiko Besar). Jika ada yang menawari investasi "Pasti untung besar, cepat balik modal, tanpa risiko", lari sejauh mungkin. Itu pasti bohong.

Kekayaan yang berkah dan awet itu dibangun perlahan. Seperti menyusun batu bata satu per satu. Membosankan memang, tapi temboknya akan kokoh melindungi keluargamu dari badai.

Penutup

Membangun kemapanan bukanlah lari sprint 100 meter yang cepat selesai. Ini adalah lari maraton. Napasmu harus panjang. Langkahmu harus konsisten.

Jangan iri melihat orang lain pamer kekayaan instan. Tetaplah pada jalurnu. Sirami terus "Pohon Jati" investasimu. Suatu hari nanti, saat "Tauge" orang lain sudah busuk, kamu akan berteduh dengan nyaman di bawah pohon rindangmu sendiri.

Di artikel selanjutnya, kita akan membahas musuh terakhir yang sering memangsa orang-orang yang tidak sabaran: Ciri-Ciri Investasi Bodong dan Penipuan.

Sampai jumpa di Langkah 10.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahap Awal Mempelajari Filsafat: Panduan Sistematis untuk Pemula

Mengenal "Mesin Pencetak Uang" dan "Mesin Penyedot Uang" (Aset vs Liabilitas)

Cara Investasi Paling Cocok untuk Kaum Sibuk (Kenalan sama Reksadana)