Hantu yang Diam-diam Mencuri Uangmu (Mengenal Inflasi)

Uang yang disedot oleh vacuum cleaner (Sumber: unsplash.com/@moneyphotos)


Ingatkah kamu waktu masih kecil dulu? Mungkin dengan uang Rp 500 perak, kamu sudah bisa beli bakso tusuk atau gorengan sampai kenyang. Tapi sekarang? Uang Rp 500 perak mungkin cuma cukup buat bayar parkir—itu pun kadang ditolak tukang parkir.

Kemana hilangnya kekuatan uang itu? Kenapa nilai uang rasanya menyusut seperti es batu yang mencair?

Jawabannya adalah satu kata yang sering disebut di berita tapi jarang dijelaskan bahayanya: Inflasi.

Selamat datang di Langkah 3. Setelah kemarin kita belajar membedakan Aset dan Liabilitas, hari ini kita akan belajar satu prinsip ekonomi dasar yang wajib diketahui siapa saja yang ingin mapan: Nilai uang tidak abadi.

Si Pencuri Tak Terlihat

Inflasi adalah kenaikan harga barang secara umum dan terus-menerus. Atau kalau dibalik: Inflasi adalah penurunan nilai mata uang.

Bayangkan kamu punya uang Rp 10 Juta hari ini. Kamu simpan uang itu rapat-rapat di dalam lemari baju (di bawah tumpukan baju), lalu kamu kunci selama 10 tahun. Apakah jumlahnya berkurang? Tidak. Saat kamu buka 10 tahun lagi, jumlah lembarannya tetap sama, Rp 10 Juta.

TAPI... (ini bagian seramnya) Apa yang bisa dibeli dengan Rp 10 Juta itu 10 tahun lagi? Mungkin saat itu, harga sepiring nasi goreng sudah Rp 50.000. Uang Rp 10 Juta milikmu yang tadinya terasa banyak, di masa depan mungkin nilainya hanya setara Rp 5 Juta hari ini.

Tanpa sadar, setengah kekayaanmu sudah "dicuri" oleh waktu. Itulah inflasi.

Kesalahan Fatal Penabung Tradisional

Orang tua kita dulu sering menasihati: "Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya." Nasihat itu benar, tapi kurang lengkap.

Kalau kamu hanya hemat dan menabung uang cash (tunai) di celengan ayam atau di tabungan bank biasa (yang bunganya sangat kecil), kamu sebenarnya sedang berjalan mundur.

Kenapa? Karena rata-rata inflasi (kenaikan harga barang) di Indonesia bisa mencapai 3-5% per tahun. Sedangkan bunga tabungan biasa seringkali di bawah 1%. Artinya: Kecepatan uangmu bertambah kalah cepat dibanding kenaikan harga barang. Kamu merasa menabung, padahal daya beli uangmu sedang tergerus pelan-pelan.

Melawan Arus Sungai

Bayangkan ekonomi itu seperti arus sungai yang deras mengalir ke belakang (Inflasi). Jika kamu diam saja (menyimpan uang di bawah bantal), kamu akan hanyut terbawa arus ke belakang. Kamu makin miskin walau tidak belanja apa-apa.

Supaya kamu bisa tetap di tempat, kamu harus berenang. Supaya kamu bisa maju (jadi kaya), kamu harus berenang lebih cepat dari arus sungai itu.

Renang inilah yang kita sebut dengan Investasi.

Jadi, Menabung itu Salah?

Tidak. Menabung itu langkah awal yang SANGAT PENTING. Tapi menabung saja tidak cukup.

  • Menabung tujuannya untuk keamanan jangka pendek (Dana Darurat).

  • Investasi tujuannya untuk melawan inflasi dan melipatgandakan kekayaan jangka panjang.

Jangan biarkan uangmu "tidur" dan dimakan rayap inflasi. Kamu bekerja keras untuk mencari uang, maka uang itu juga harus "disuruh kerja" lewat investasi agar nilainya berkembang melebihi inflasi.

Lalu Mulai Dari Mana?

Mungkin kepalamu mulai pening. "Waduh, saya harus investasi apa? Saham? Emas? Tanah? Saya kan tidak punya modal besar."

Tenang. Jangan buru-buru. Sebelum kita loncat ke instrumen investasi, ada satu benteng pertahanan terakhir yang harus kamu bangun dulu. Jangan sampai kamu sibuk investasi, tapi saat ada musibah, kamu malah terpaksa jual aset rugi besar.

Benteng itu bernama: Dana Darurat.

Apa itu Dana Darurat dan berapa jumlah yang harus kamu punya sebelum berani investasi? Kita akan kupas tuntas di artikel selanjutnya.

Sampai jumpa di Langkah 4.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahap Awal Mempelajari Filsafat: Panduan Sistematis untuk Pemula

Mengenal "Mesin Pencetak Uang" dan "Mesin Penyedot Uang" (Aset vs Liabilitas)

Cara Investasi Paling Cocok untuk Kaum Sibuk (Kenalan sama Reksadana)