Apa Itu 'Mapan'? Membongkar Ilusi Angka dan Menemukan Logika Kecukupan

Sumber: https://unsplash.com/id/@cvelitchkov

Jika kita bertanya kepada sepuluh orang di jalan tentang apa arti kata "mapan", kemungkinan besar kita akan mendengar jawaban yang seragam. Mayoritas akan menjawab: memiliki rumah besar, mobil mewah di garasi, saldo tabungan miliaran, dan mungkin, kebebasan untuk membeli apa saja tanpa melihat label harga.

Selama puluhan tahun, masyarakat kita telah dikondisikan untuk mengukur kesuksesan hidup—atau kemapanan—berdasarkan angka. Seolah-olah, kebahagiaan adalah sebuah grafik linier: semakin banyak harta yang dimiliki, semakin bahagia pula manusianya.

Namun, jika definisi tersebut benar, mengapa kita sering melihat orang kaya yang hidupnya penuh kecemasan? Mengapa banyak keluarga yang secara materi bergelimang harta, namun hancur berantakan di dalamnya?

Selamat datang di Langkah Mapan. Di artikel perdana ini, kita tidak akan membahas cara cepat kaya. Kita akan mundur selangkah ke belakang untuk memperbaiki fondasi berpikir kita. Kita akan mendefinisikan ulang apa itu "Mapan" menggunakan kacamata logika dan filsafat, sebelum kita berbicara tentang uangnya.

Jebakan "Hedonic Treadmill": Mengapa Angka Tidak Pernah Cukup?

Dalam psikologi ekonomi, ada istilah yang dikenal sebagai Hedonic Treadmill. Ini adalah kecenderungan manusia untuk segera kembali ke tingkat kebahagiaan yang relatif stabil meskipun ada peristiwa besar (positif atau negatif) dalam hidup mereka.

Secara sederhana, logikanya begini: Saat gaji Anda 5 juta, Anda bermimpi punya motor sport. Saat gaji Anda naik jadi 20 juta dan bisa membeli motor itu, kebahagiaan itu hanya bertahan sebulan. Setelah itu, Anda merasa "biasa saja" dan mulai menginginkan mobil. Saat sudah punya mobil, Anda menginginkan mobil yang lebih mewah.

Ini adalah perlombaan tanpa garis finis. Jika Anda mendefinisikan "Mapan" sebagai "memiliki lebih banyak", maka Anda tidak akan pernah mapan. Karena keinginan manusia itu sifatnya tidak terbatas, sedangkan alat pemuasnya (uang) sifatnya terbatas.

Oleh karena itu, definisi Mapan di blog ini bukanlah tentang jumlah nominal. Mapan adalah kondisi psikologis di mana logika kita mampu membedakan antara kebutuhan nyata dan keinginan ego, serta merasa cukup atas kendali diri tersebut.

Anatomi Keputusan Ekonomi: Logika vs Ego

Setiap kali kita mengeluarkan uang, sebenarnya sedang terjadi pertempuran di dalam otak kita antara Logika dan Ego.

Tindakan ekonomi yang didasari oleh logika biasanya sangat sederhana:

  • Saya lapar, saya beli nasi (Kenyang).

  • Saya butuh mobilitas, saya beli kendaraan yang berfungsi baik (Sampai tujuan).

Namun, tindakan ekonomi yang didasari oleh ego jauh lebih rumit dan mahal:

  • Saya ingin terlihat sukses di mata teman reuni, saya beli mobil yang cicilannya mencekik leher.

  • Saya ingin dibilang kekinian, saya beli kopi mahal hanya untuk difoto, bukan untuk dinikmati rasanya.

Keputusan-keputusan inilah yang menjauhkan kita dari kemapanan. Banyak orang yang gajinya besar tapi tidak pernah merasa aman secara finansial (insecure), bukan karena penghasilannya kurang, tapi karena biaya egonya terlalu tinggi.

Logika ekonomi yang sehat mengajarkan kita bahwa uang hanyalah alat tukar untuk bertahan hidup dan memberi kenyamanan, bukan alat untuk membeli validasi sosial atau harga diri.

Dampak Fatal Salah Definisi Terhadap Kehidupan Sosial

Apa hubungannya filsafat uang ini dengan kehidupan sosial dan cinta? Sangat erat.

Ketika seseorang salah mendefinisikan kemapanan, mereka akan terjebak dalam Rat Race (perlombaan tikus). Mereka bekerja siang malam, mengorbankan kesehatan, dan yang paling parah, mengorbankan waktu bersama orang-orang yang mereka cintai, hanya demi mengejar standar gaya hidup yang dicitrakan oleh media sosial.

Banyak hubungan asmara kandas bukan karena kekurangan uang untuk makan, tapi karena:

  1. Tekanan Gaya Hidup: Pasangan menuntut kemewahan di luar kemampuan logika finansial.

  2. Absensi Emosional: Terlalu sibuk mencari uang untuk gengsi, sampai lupa "hadir" untuk pasangan.

Kemapanan yang sejati seharusnya membawa ketenangan (peace of mind). Jika "kemapanan" yang Anda kejar justru membuat Anda stres, cemas, dan jauh dari keluarga, maka ada yang salah dengan definisi yang Anda pegang.

Langkah Mapan Dimulai dari Pikiran

Menjadi mapan bukanlah tujuan akhir berupa tumpukan harta, melainkan sebuah cara berjalan (way of walking) dalam menyusuri kehidupan.

Langkah Mapan dimulai saat kita berhenti menjadikan validasi orang lain sebagai kompas keputusan ekonomi kita. Ia dimulai saat kita berani berkata "Cukup" ketika logika kita terpenuhi, meskipun ego kita berteriak minta lebih.

Jadi, sebelum kita membahas strategi investasi, cara menabung, atau tips mengelola gaji di artikel-artikel selanjutnya, tanyakanlah pada diri Anda hari ini:

"Apakah saya mencari uang untuk membiayai hidup saya, atau untuk membiayai gengsi saya?"

Jawaban Anda atas pertanyaan tersebut akan menentukan apakah Anda akan menjadi tuan atas uang Anda, atau menjadi budak selamanya.

"Lalu, bagaimana cara kerja otak kita saat melihat diskon atau barang mewah? Kita akan membedah logika vs emosi ini pada artikel selanjutnya yang berjudul: Logika vs Emosi: Mengapa Otak Kita Sering 'Error' Saat Melihat Diskon?. Nantikan updatenya."

Komentar